CATATAN SEORANG SANTRI
Sebuah buku yang bejudul asli “Membongkar Akar Sekularisasi”merupakan catatan kegelisahan tentang Islam dewa ini. Upaya refletif ini melahirka bentuk tulisan yang cukup beragam yang bertema politik, dakwah dan harokah. Intelektual organik (meminjam istilah Gramschi), mengamati dari perkembangan Islam dewasa ini
Islam lahir membawa sumber pokok; wahyu “ al Qur’an” dan visi ketauladanan nabi “ hadis”. Semua itu terbukuhkan sebagai warisa Islam. Ini kemudian Islam disebut sebagai kebudayaan teks ( skripture). Teks tersebut secara langsung bersentuhan dengan kebudasyaan arab. Segenap persoalan waktu selalu mendapat respons aktif dari wahyu.
Karena wahyu telah paripurna, ini bayak menimbulkan pola pemikiran dalam Islam. Atau sebuah kelompok dengan tendensi ideologis pada Islam. Dikotomi Islam sudah pertama kali dilakonkan oleh sejarah perkembangan Islam dengvan taming ideolodis, politik yang menjurus pada masalam imamah. Generasi islam membawa Islam ke seantero dengan Islamnya sendiri, mneyakini Islam seperti apa yang telah diyakini. Sejalan dengan peradaban dan kebudayaan yang terus berkembang sesuai dengan karakteristik wahyu dan “ mujmal” dan “mutasyabihat”. Munculnya corak keberislaman, mewarnai dari modeling Islam salaf, tradisional, modern. Dengan terdiri corak pemikiran, konservatif, moderat, bahkan liberal.
Pertarungan dua modeling pemikiran ini fundamentalisme versus liberalisme, merupakan dua wajah Islam yang cukup kentara dalam polemik permikiran Islam dewasa ini. Karena visi unisersalitas Islam hanya terpotong secara zig-zag berdasarkanj kepentingan. Setiap aliran mahzab mempunyai visi untuk kembali kepada sumber pokok Islam. Dan untuk mengetahui sumber visi islam tidak harus plagiatisasi “ pengaraban”.
Polemik semacam inilah yang menjadi kegelisaha seoran santri Doktoral, yang mengamati Islam tidak lebih dari pergplakan-pergolakan pemikiran mazhab. Dua kubu yang saling bergolak tersebut dilatarbelakangi oleh ceorak pemiokiran dari sumber Islam awal. Golongan yang lebih liberal memperoleh sumber Islam daeri orang barat, yang kemudia malahirkan sekularisme. Sedangkan golongan fundamental memperoleh sumber Islam dari timur, yaitu sumber lahirnya Islam, kemudian melahirkan frakmentasi ortodoksi Islam.
Petama, liberalisa yang melahirkan sekularisasi dalam Islam. Liberalisme menginginkan bagaimana memberkakukan pemisahan hal-hal yang bersifat alamiyah. Dan dalam pengetahuan yang menjadi serba ilmiam serba argumentasi. Dengan demikian manusia mempunyai otonomi, sehingga ia dapat berbuat apa saja dengan apa yang dikehendaki berdasarkan rasio.
Upaya rasionalitas kemudia menjalar ke teks suci. Liberalisasi teks suci melahirka paradigma keberagaman. Yang lebih lentur terhadap perkemdbangan kebudayaan dengan mengupayakan bagaimana teks suci tetap seirama dengan perkembangan tersebut.
Kedua, fundamentalisme yang melahirkan frakmentasi ortodoksi Islam yang kaku. Aliran ini memandang Islam sesuatu yang stagnan, maka yang ada hanya kekolotan, kaku dan brutal. “the fundamentals” hal-hal yang paling asasi, sebuah buku yang diterbitkan di Amerika (1910-1915), istilah “fundamental” digunakan untuk dogtrin tradisional pewahyuan dan otoritas al kitab, keilahian Yesus kristus dan kelahiran perawan.
Sapaan yang lebih disukai oleh kelomkpok ini adalah evangelikal konservatif “ conservative evangelical” adalah klasifikasi yang berkaitan dengan politik kelompok gereja --yang mencoba mempertahankan daripada membagun kembali.
Kelompok Islam fundamental menolak ijtihad. Karena ijtihad yang serampangan oleh mujtahid baru. Tiklid mazhab;;

Tidak ada komentar:
Posting Komentar